Sekali Lagi untuk Muri, Mura dan Muda…

Di dunia manufaktur, Si tiga serangkai ini terlalu sulit untuk dilupakan dan terlalu menyebalkan untuk diabaikan…he3x. Apa pasal? Yo karena sejatinya tiga mahluk inilah yang selalu kita uber-uber untuk dimusnahkan dan agar jangan sekali-kali hinggap ngendon dalam alur proses produksi kita. Di dalam konsep lean manufacturing, poin pentingnya adalah wastes elimination, menghilangkan pemborosan, yang dalam lidah Jepang sana diistilahkan sebagai 3M ini, Muri-Mura-Muda. Apa sih mereka? di bawah ini saya tuliskan kembali artikel dari seorang teman yang saya lupa entah kapan dan dimana saya membacanya, sebagai sarana nginget-nginget sehingga jika  makin sering diinget, makin gape kita untuk mengenal dan memusnahkannya, semoga…

  1. Muri. Pemborosan karena beban yang berlebihan. Ilustrasinya sebagai berikut: Bila kita memiliki 10 karung beras masing-masing 30 kg. Lalu kita juga memiliki troli dengan kapasitas 120 kg per sekali angkut. So, bila kita memindahkan beras 2 kali atau 1 kali angkut sekaligus, kelebihan beban itu mengakibatkan roda troli patah atau shaft rodanya bengkok. Akhirnya, kita tidak memiliki toli lagi, dan ini adalah biaya atau pemborosan karena kita harus memperbaiki troli atau membeli troli yang baru.
  2. Mura. Pemborosan karena tidak adanya ketegasan batasan, pengaturan yang tidak jelas dan asal bekerja. Contoh, bila kita tidak jelas memerintahkan pemindahan barang, bisa saja yang 10 karung diangkut 4 kali, yakni pengangkutan pertama 3 karung, pengangkutan kedua 4 karung, pengangkutan ketiga 2 karung dan pengangkutan keempat 1 karung. Dalam disiplin kualitas, ketidakpatuhan dan ketidakteraturan adalah awal munculnya masalah. Coba kita bayangkan, bila hal ini terjadi di tempat kita bekerja, operator dengan mudah mengubah-ubah setting baking oven, misalnya. Sudah dapat dipastikan kita akan menghaslikan produk yang berbeda-beda setiap kali pengovenan, entah terlalu matang atau tidak matang sama sekali, terkadang matang, dan seterusnya. Intinya, variasi yang tidak diatur akan menimbulkan kerusakan standar mutu pada produk.
  3. Muda. Pemborosan karena berlebihan yang tidak diperlukan. Sebagai contoh ilustrasi di atas, jika kita memindahkan beras tersebut 10 kali atau 5 kali, maka kita telah melakukan pemborosan. Perincian tentang muda ini ada di sini.

Eh ya, mumpung belum lupa, ada baiknya kita mengingat petuah dari Begawan TPS, Taiichi Ohno, “Pemborosan terbesar adalah pemborosan yang tidak terlihat oleh mata.” Nah lho… Melotot.

Belajar dari Toyota Way: Mengidentifikasi PEMBOROSAN

Toyota telah mengidentifikasikan delapan jenis aktivitas utama yang tidak memiliki nilai tambah dalam bisnis atau proses manufaktur, yang kita sebut sebagai pemborosan. Kita dapat menindaklanjutinya dalam proses pengembangan produk, penerimaan pesanan, dan prosedur di kantor, tidak hanya di jalur produksi. Kedelapan jenis pemborosan itu adalah sebagai berikut:

  1. Produksi berlebih. Memproduksi sesuatu lebih awal atau dalam jumlah yang lebih besar daripada yang dibutuhkan oleh pelanggan. Memproduksi lebih awal atau lebih banyak daripada yang dibutuhkan menciptakan pemborosan lain seperti biaya kelebihan tenaga kerja, penyimpanan, dan transportasi karena persediaan berlebih. Persediaan dapat berupa persediaan fisik atau antrean informasi. Baca lebih lanjut