JANGAN BIARKAN MEREKA MEMBAJAK EMOSIMU

kang-masduki-fokus-satu-hebat-71

Dulu kami pernah punya tetangga, etnis Tionghoa. Ada hal menarik dari keluarga yang sekali-kali saja menempati rumahnya di kompleks perumahan kami itu. Keluarga ini, mulai dari bapak, ibu, hingga anak lelakinya, hampir-hampir tak pernah senyum apalagi membalas senyum dan sapaan kami. Setiap kami berpapasan, saya tak lupa untuk tersenyum sambil menyapa, sekedar say hello, “Hi Pak.” atau “Siang Pak.” atau “Pagi Bu.” Hebatnya, tak pernah keluar jawaban dari mereka, sepatah katapun. Saya curiga apakah mereka ada masalah pendengaran, tapi ternyata mereka bisa asyik ngobrol dengan koleganya. Jadi pertanyaan saya terjawab sudah. Cerita tentang keluarga ini akan lebih panjang jika ditambah dengan cara mereka menanggapi kewajiban iuran lingkungan, kegiatan kerja bakti, dan sejenisnya. Sungguh sangat berbeda bertolak belakang dengan tetangga kami beberapa rumah di samping keluarga ini, sama etnis Tionghoa juga. Sungguh hanya kesan kebaikan yang nyangkut dalam memori kami atas sikap dan perilaku keluarga yang ini, sehingga kami bersahabat baik, hingga kepada anak-anak kami.

Anak saya yang pertama, sesekali bertanya tentang sikap keluarga yang pertama saya ceritakan, “Yah, kenapa mereka nggk pernah membalas dan menjawab senyum serta sapaan Ayah ya? Saya dengan tersenyum menjawab. “Kita yang menentukan aksi kita, dan kita tidak bergantung pada reaksi dari yang kita terima dari siapapun. Anyway, emang siapa mereka, sampai kita membiarkan dia mempengaruhi tindakan kita, sehingga menjadi negatif? Jangan biarkan orang lain membajak emosimu, Nak. Emosimu hanya boleh dituntun oleh akal yang benar, bukan hawa nafsu yang keliru.” Saya ingin memberi pelajaran kepada anak-anak saya, bahwa apa yang diucapkan orang lain, apalagi sekarang, di era social media yang makin meraja opini, jangan sampai membajak kendali dari apa yang harus kita pikirkan, rasakan dan lakukan. Apalagi menjadi terpancing untuk bereaksi negatif tak terukur, atas apa yang mereka ucapkan dan lakukan.

Jangan ngamuk karena bentakan suara orang lain, menarilah dengan dendang kita sendiri. Kita hanya beraksi karena memang dituntun oleh hukum dan kepatutan. Tetaplah benar, tetaplah baik, tetaplah bersandar kepada Yang Maha Benar dan Yang Maha Baik.

Salam #FokusSatuHebat