Pintu Surga Bagi Karyawan Pejuang

Setiap kita, bagaimanapun bergajulannya kelakuan kita, saat sedang sakit parah niscaya akan teringat mati, lengkap dengan perasaan khawatir dan harap yang bercampur aduk. Bagi kita seorang karyawan pabrik, mati berarti “pensiun” terakhir kita dari dunia nan indah ini, ciee… Masalahnya adalah apa yang akan kita temui di kehidupan baru nanti? Akankah kita dininabobokan oleh para bidadari atau malah tak putus-putusnya digebukin para malaikat Neraka, iihhhh..

Gurunya para guru di Indonesia, Syekh Nawawi al Bantani menasehati kita semua dalam kitabnya yang monumental dan menyentuh kalbu, Nashaaihul ‘Ibad, bahwa bagi insan yang merindukan Surga dan takut Neraka hendaknya memahami roadmap, peta jalan ke akhirat kelak. Beliau menyebutkan bahwa ada enam perkara yang menjadi pintu Surga dan pengunci Neraka. Apa itu?

  1. Mengenal Allah (‘Arafallaahu ta’ala). Artinya, seorang karyawan musti memahami betul bahwa dirinya diciptakan Allah dan konsekwensinya adalah kudu ta’at terhadap perintah dan larangannya. Jika seorang karyawan pejuang konsisten tidak terlambat dalam masuk kerja, sikap ini muncul semata-mata dari kesadaran bahwa disiplin merupakan perintah Tuhannya, sedangkan keterlambatan merupakan pelanggaran atas larangan-Nya.
  2. Mengenal Setan (‘Arafas syaithana). Seorang musuh bebuyutan tentu akan kita sikapi berbeda dengan seorang sahabat dekat. Jadi, merupakan kecelakaan-duabelas tatkala kita tak mampu bersikap tepat menghadapi dua sosok bertolak-belakang ini, musuh dan sahabat. Oleh karena itu, karyawan yang korupsi uang perusahaan sejatinya dia sedang menta’ati perintah Setan yang seharusnya ditentangnya. Nah lho…
  3. Mengenal Akhirat (‘Arafal aakhirata). Seorang karyawan pejuang tidak akan kelenger hanya karena upah UMR tak sesuai harapan. Maju terus sampe finish kehidupan karena di depan menanti upah dari Allah yang tak didapat dari perusahaan, hi..hi…Jangan lupa, akhirat adalah terminal akhir sedangkan dunia yang makin fana ini sekedar tempat mampir ngombe
  4. Mengenal Dunia (‘Arafad dunya). Jangan bersedih wahai karyawan pejuang, dunia boleh Anda tak gapai tapi cukup persiapkan sekedar “ongkos” jalan menuju kehadirat Ilahi.
  5. Mengenal Kebaikan (‘Arafal haqqa). Kebaikan adalah apa-apa yang benar plus sesuai dengan hukum-hukum Sang Maha Pencipta, maka tugas kita adalah mengikutinya dan beramal sesuai dengannya. Figur karyawan pejuang tidak boleh gampang pusing oleh naik-turunnya harga cabe merah kriting. Sosok karyawan pejuang tetap berdiri kokoh walau anak cemberut menanti pembayaran uang-uang sekolah, kita tau sebagai pengganti uang SPP, telah muncul uang buku, uang seragam, uang daftar ulang, uang galon, uang katering, uang tour, uang keterampilan, uang bangku, dan masih banyak lagi yang lainnya…
  6. Mengenal Keburukan (‘Arafal bathila). Penting dan mendesak bagi kita untuk mengenal betul setiap “lagu” keburukan sehingga kita tidak berdendang mengiringinya. Sosok karyawan pejuang, pasti akan menolak setiap ajakan untuk memanipulasi harga sparepart yang ditawarkan oleh supplier, menampik kiriman parcel lebaran dan natalan ke rumah, dan menolak halus ajakan selingkuh dari karyawati baru, anak magang ataupun anak PKL. Tak lain  karena semuanya merupakan langgam keburukan.

Wahai para karyawan pejuangku, tetaplah semangat dan instiqamah di medan juang…

Artikel Terkait:

11 thoughts on “Pintu Surga Bagi Karyawan Pejuang

  1. Ping balik: FUN WORKS, Melejitkan Kinerja Karyawan « MASDUKI ASBARI

  2. Ping balik: EMPAT TIPE KARYAWAN, Yang Manakah Anda? « MASDUKI ASBARI

  3. Ping balik: Menjadikan Tempat Kerja Sebagai Sekolah « MASDUKI ASBARI

  4. Ping balik: Ringkasan Eksekutif dari 14 Prinsip TOYOTA WAY « MASDUKI ASBARI

  5. Ping balik: KEPEMIMPINAN TRANSFORMASIONAL: Landasan Menuju World Class Company « MASDUKI ASBARI

  6. Ping balik: Belajar INOVASI dari Toyota « MASDUKI ASBARI

  7. Ping balik: Meningkatkan Nilai Aset Perusahaan yang tak Berwujud (Intangible Asset) « MASDUKI ASBARI

  8. Ping balik: Mengukur Komitmen Manajemen Puncak dalam Membangun BUDAYA PERUSAHAAN « MASDUKI ASBARI

  9. Ping balik: Belajar Mengubah Budaya dari Toyota Way « MASDUKI ASBARI

  10. Ping balik: Mengabaikan Human Capital = Mempersiapkan Kebangkrutan « MASDUKI ASBARI

  11. Ping balik: Belajar dari Toyota Way: Mengidentifikasi Pemborosan « MASDUKI ASBARI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s