Menimbang Skala Kepercayaan Diri, Dimanakah Posisi Anda?

Kepercayaan diri menunjukkan keyakinan seseorang terhadap dirinya sendiri akan kemampuannya menyelesaikan tugas. Orang seperti ini merasa yakin bahwa dirinya memiliki kemampuan yang sepadan terhadap tugas-tugas yang diberikan kepadanya dan bahkan dalam banyak hal dia cukup percaya diri untuk dapat mengerjakan sesuatu yang lebih berat dari sebelumnya. Orang seperti ini gampang menerima tantangan pekerjaan, termasuk dalam meyakinkan orang lain bahwa dirinya adalah orang yang tepat untuk mengatasi permasalahan secara konstruktif di perusahaan.

Hanya saja kepercayaan diri antara satu orang dengan orang lain berbeda-beda dan bertingkat-tingkat. Penjelasan yang sangat baik dipaparkan oleh Rimsky K. Judisseno dalam buku beliau yang luar biasa, Jadilah Pribadi yang Kompeten di Tempat Kerja. Menurut beliau, ada urutan dan skala perilaku yang muncul dalam kompetensi self-confidence, yakni:

  1. Lack of confidence, adalah keadaan seseorang yang tidak mampu menunjukkan kemampuannya secara meyakinkan. Orang seperti ini biasanya sering bertanya bahkan mempertanyakan dirinya sendiri, apakah mampu mengerjakannya atau tidak. Dia terus diliputi rasa tidak percaya diri yang kuat. Canggung dalam bekerja, menghindar dari sorotan orang lain, menjauhi conflict, dan selalu menunjukkan ketidakberdayaannya (powerless).
  2. Avoid challenges, kondisi berikutnya yang juga bermasalah adalah menghindari tantangan kerja. Mereka cukup nyaman dengan pekerjaannya sekarang, sampai suatu ketika ada orang yang komplain atau marah tehadap hasil kerjanya, baru perasaan tidak nyaman menyerang dia. Namun, jika tidak ada teguran apa-apa dan orang lain cenderung lupa dengan kejadian tersebut, orang ini akan kembali kepada kebiasaannya semula.
  3. Presents self-confidence, pada level ini seseorang mampu menunjukkan rasa percaya diri dengan cara bekerja tanpa supervisi yang terus-menerus dan bahkan dalam banyak hal mampu membuat keputusannya sendiri dalam membantu menyelesaikan tugasnya.
  4. Sees self as an expert, pada level ini menunjukkan kemampuan seseorang sebagai panutan bagi orang lainnya. Dia meyakinkan orang lain bahwa dirinya patut dicontoh. Untuk membuktikannya, dia menjadikan dirinya sebagai motor penggerak, katalisator, dan seorang ahli yang memiliki ide-ide orisinil juga sebagai orang yang dapat diandalkan dan dipercaya.
  5. States own position, pada level ini seseorang mampu dengan tegas menyatakan posisinya dalam suasana konflik. Dapat dengan tegas, tetapi sopan menyatakan ketidaksetujuannya terhadap konsep yang berkembang.
  6. Volunteers for challenges, mampu menerima tantangan dalam upaya mencari tanggung jawab baru yang lebih besar. Bahkan, secara blak-blakan berani mengambil resiko dan menantang manajemen untuk membuktikannya.

Nah, dengan skala perilaku di atas, dimanakah posisi Anda?

Daftar Pustaka:

  • Judisseno, R. K., (2009). Jadilah Pribadi yang Kompeten di Tempat Kerja, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama

Artikel Terkait:

13 thoughts on “Menimbang Skala Kepercayaan Diri, Dimanakah Posisi Anda?

  1. Ping balik: Membangun Karyawan Pembelajar « MASDUKI ASBARI

  2. Ping balik: FUN WORKS, Melejitkan Kinerja Karyawan « MASDUKI ASBARI

  3. Ping balik: Sepuluh TUPOKSI Manajer Produksi « MASDUKI ASBARI

  4. Ping balik: EMPAT TIPE KARYAWAN, Yang Manakah Anda? « MASDUKI ASBARI

  5. Ping balik: Menjadikan Tempat Kerja Sebagai Sekolah « MASDUKI ASBARI

  6. Ping balik: Ringkasan Eksekutif dari 14 Prinsip TOYOTA WAY « MASDUKI ASBARI

  7. Ping balik: KEPEMIMPINAN TRANSFORMASIONAL: Landasan Menuju World Class Company « MASDUKI ASBARI

  8. Ping balik: Belajar INOVASI dari Toyota « MASDUKI ASBARI

  9. Ping balik: Meningkatkan Nilai Aset Perusahaan yang tak Berwujud (Intangible Asset) « MASDUKI ASBARI

  10. Ping balik: Mengukur Komitmen Manajemen Puncak dalam Membangun BUDAYA PERUSAHAAN « MASDUKI ASBARI

  11. Ping balik: Belajar Mengubah Budaya dari Toyota Way « MASDUKI ASBARI

  12. Ping balik: Mengabaikan Human Capital = Mempersiapkan Kebangkrutan « MASDUKI ASBARI

  13. Ping balik: Belajar dari Toyota Way: Mengidentifikasi Pemborosan « MASDUKI ASBARI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s