SELF-DIRECTED LEARNING: Menjadikan Tempat Kerja Sebagai Sekolah

Cross (1981) pernah menyatakan bahwa diperkirakan 70% orang dewasa belajar dengan self-directed learning (SDL).  Oleh karena itu pantas SDL ini telah menyedot perhatian para ahli dan praktisi pembelajaran khususnya adult learning, setidaknya dalam kurun tiga dekade terakhir. Apa itu SDL? SDL atau kadang kita kenal dengan istilah belajar mandiri digambarkan sebagai sebuah proses pembelajaran, dimana individu mengambil inisiatif, dengan atau tanpa bantuan orang lain, untuk mendiagnosa kebutuhan belajar, merumuskan tujuan belajar, mengidentifikasi sumber daya pembelajaran, memilih dan menerapkan strategi pembelajaran serta mengevaluasi hasil belajar (Knowles, 1975).

Di manakah posisi konsep SDL di antara konsep pembelajaran yang lain?  Mocker dan Spear (1982) menjelaskan bahwa dari sudut pandang kontrol terhadap tujuan dan sarana pembelajaran, setidaknya ada empat model pembelajaran yang sudah kita kenal, yakni:

  1. Formal learning, yakni model pembelajaran di mana institusi pembelajaran (bukan pembelajar) mengontrol penuh atas tujuan dan sarana pembelajaran
  2. Non-formal learning, yakni model pembelajaran di mana pembelajar memiliki kontrol atas tujuan pembelajaran sedangkan sarana pembelajaran dikontrol oleh institusi.
  3. Informal learning, yakni model pembelajaran di mana institusi pembelajaran mengontrol atas tujuan pembelajaran sedangkan sarana pembelajaran dikontrol oleh para pembelajar sendiri.
  4. Self-directed learning, yakni model pembelajaran di mana pembelajar memiliki kontrol atas tujuan dan sarana pembelajaran.

Intinya, SDL diarahkan kepada kemandirian pembelajaran yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi obyektif  para pembelajar yang bersangkutan. So, menurut saya model pembelajaran SDL ini sangat compatible dengan kondisi medan juang kita, yakni industri manufaktur sebagai tempat kerja. Di tengah makin pesatnya persaingan industri maka tidak berlebihan jika sikap quick response menjadi prasyarat eksistensi organisasi. Tentu jika dikaitkan dengan pengetahuan, syarat bisa menjaga kompetensi adalah dimilikinya up-to-date knowledge oleh para punggawa organisasi, termasuk kita sebagai karyawan pabrik. Mengandalkan jadwal training di pabrik niscaya akan “sukses” menggiring kita pada posisi marginal kompetisi, Emang mau?. Solusinya adalah menghidupkan kepedulian insan organisasi terhadap kebutuhan memiliki knowledge. Maka tak heran jika Guglielmino  dan Murdick (1997) menyebut SDL sebagai the quiet revolution in corporate training and development.

Nah, PR-nya adalah bagaimana mengkondisikan tempat kerja kita sebagai pendukung proses pembelajaran mandiri ini? Bagaimana menjadikan tempat kerja sebagai sekolah bagi kita? Terkait dengan masalah ini saya menggunakan rekomendasi dari Hiemstra (1982; 1985) dan Brocket dan Hiemstra (1985). Setidaknya ada beberapa langkah yang bisa dilakukan oleh manajemen pabrik agar organisasi menjadi kondusif bagi proses pembelajaran mandiri, yakni:

  • Melakukan pertemuan reguler dengan konsultan yang dapat memberikan saran-saran tentang kurikulum dan evaluasinya
  • Melakukan penelitian tentang kecenderungan dan minat belajar para karyawan
  • Mengembangkan tools yang diperlukan untuk mengukur kinerja karyawan saat ini dan untuk mengevaluasi pencapaian kinerja yang diharapkan
  • Memberikan reward ketika karyawan mampu mencapai tujuan pembelajaran yang telah mereka tentukan sebelumnya
  • Mengembangkan kelompok-kelompok belajar di tempat kerja, hal ini bisa disesuaikan dengan kesamaan minat atau kesamaan job
  • Melakukan pelatihan staf tentang SDL dan terus memperluas peluang implementasinya

Akhirnya, tidak mungkin tidak, kompetensi organisasi dibangun oleh karyawan yang kompeten. Jika di dunia produksi kita kenal dengan autonomous maintenance, maka SDL adalah praktek membangun kompetensi diri dengan autonomous learning. Jika di ranah lean manufacturing kita memahami pentingnya just-in-time, maka SDL sejatinya merupakan ejawantah dari menghadirkan just-in-time learning.

Jadi, kepada para pejuangku, sadarilah bahwa masa depan anak-istrimu ada di tangan, kaki dan kepalamu, maka berpaculah ‘tuk menguasai up-to-date knowledge. Tidak ada posisi terpisah antara mencari uang dengan mencari ilmu. Jadikan tempat kerja sekaligus sebagai sekolah unggulanmu. Mengapa demikian? Karena sejatinya memang beginilah jalan cita para pejuang…halah…

 

Referensi:

  • Brockett, R. G., and Hiemstra, R. “Bridging the Theory-Practice Gap in Self-Directed Learning.” In Self-Directed Learning: From Theory to Practice, edited by S. Brookfield. New Directions for Continuing Education No. 25. San Francisco: Jossey-Bass, 1985. (ERIC No. EJ 313 258).
  • Cross, K. P. Adults As Learners. San Francisco: Jossey-Bass, 1981.
  • Guglielmino, P.J. and Murdick, R.G. “Self-directed learning: the quiet revolution in corporate training and development” SAM Advanced Management Journal, VOl.62, 1997  

  • Hiemstra, R. “Self-Directed Adult Learning: Some Implications for Practice.” March 1982. (ERIC Document Reproduction Service No. ED 262 259).

  • Hiemstra, Roger, ed. “Self-Directed Adult Learning: Some Implications for Facilitators.” July 1985. (ERIC Document Reproduction Service No. ED 262 260).

  • Knowles, M. Self-Directed Learning: A Guide for Learners and Teachers. New York: Association Press, 1975.

  • Mocker, D. W., and Spear, G. E. “Lifelong Learning: Formal, Nonformal, Informal, and Self-Directed.” Information Series No. 241. Columbus: ERIC Clearinghouse on Adult, Career, and Vocational Education, The National Center for Research in Vocational Education, The Ohio State University, 1982. (ERIC Document Reproduction Service No. ED 220 723).

 

 

        Masduki Asbari

 

Artikel Terkait:

9 thoughts on “SELF-DIRECTED LEARNING: Menjadikan Tempat Kerja Sebagai Sekolah

  1. Ping balik: Ringkasan Eksekutif dari 14 Prinsip TOYOTA WAY « MASDUKI ASBARI

  2. Ping balik: KEPEMIMPINAN TRANSFORMASIONAL: Landasan Menuju World Class Company « MASDUKI ASBARI

  3. Ping balik: Belajar INOVASI dari Toyota « MASDUKI ASBARI

  4. Ping balik: Meningkatkan Nilai Aset Perusahaan yang tak Berwujud (Intangible Asset) « MASDUKI ASBARI

  5. Ping balik: Mengukur Komitmen Manajemen Puncak dalam Membangun BUDAYA PERUSAHAAN « MASDUKI ASBARI

  6. Ping balik: Belajar Mengubah Budaya dari Toyota Way « MASDUKI ASBARI

  7. Good artikel Masduki…..exp” dept. Production & PPC salah satu ATPM terkenal.. tapi sekarang jadi Utility staf PT n” duh susah beda and jomplng banget regulasinya …. la GIMANA SDMNYA MO MAJU Y… paling BISA ABS….

    Suka

  8. Memang Pak Eko, terkadang kita menemui kondisi yang tak ideal menurut kita, yah… begitulah sejatinya hidup. Hanya saja, saran saya jangan sampai kita terbatasi dan dibatasi oleh orang lain, oleh atasan kita, oleh perusahaan atau lingkungan kita yang lain, karena nasib baik kita ada di tangan kita. Cukuplah kita bersandar kepada Yang Maha Kuasa. Success is your right…

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s