Enam Strategi Revitalisasi Karier

Are you happy and satisfied with your career right now? Apakah sudah mencapai kestabilan dalam bekerja? Atau bisa jadi itu problemnya–pekerjaan sudah terlalu stabil? Mungkin Anda sudah menjadi bagian dari organisasi yang sama selama bertahun-tahun dan merasakan kebosanan dan tidak ada lagi tantangan. Tidak ada lagi keahlian baru yang bisa dikembangkan karena hanya mengerjakan yang itu-itu saja.

Apa pun jawaban kita atas pertanyaan tadi: “Ya”, “Tidak”, “Nggak tahu” atau “Nggak peduli ah..”, ada baiknya kita coba merenung dan melihat bagaimana pekerjaan yang dijalani sekarang. Pilihan-pilihan apakah yang tersedia untuk terus tumbuh secara profesional dan perubahan-perubahan macam apa yang harus dijalankan?

Ada yang menganggap keterikatan kerja dengan perusahaan adalah sebuah “jalinan suci” yang tidak bisa diputus. Ada juga yang merasa dirinya seperti tentara bayaran dan bekerja murni atas dasar kompensasi. Ada lagi yang mengedepankan passion dan purpuse of life dalam setiap pilihan bekerja. Apa pun alasannya, pilihan selalu ada — dan sejatinya, menjadi lebih baik memilih sendiri sebelum dipilihkan orang lain. Pilihan yang diambil sendiri dalam pekerjaan, karier, dan kehidupan akan menambah kadar kelegaan, kepuasan, dan happiness yang kita rasakan.

Segalanya berawal dari mana kita berada sekarang dan apa yang dimiliki. Langsung keluar dari pekerjaan memang sah-sah saja, namun bukan satu-satunya pilihan untuk mengatasi kemandegan pekerjaan, di samping juga keharusan untuk mempertimbangkan pemenuhan nafkah keluarga.

Caela Farren, seorang career development specialist, menyampaikan Enam strategi revitalisasi karier yang bisa dilakukan.

  1. Lateral Move. Pindah secara horisontal untuk menjalankan fungsi yang berbeda tanpa perubahan pada tanggung jawab kerja, status, dan kompensasi saat ini. Model ini akan memungkinkan kita untuk mempelajari skill baru yang berujung pada peningkatan portofolio keahlian dan network. Seorang insinyur yang merambah ke area talent management atau sales & marketing tentu punya nilai tambah lebih dibandingkan dengan insinyur polos atau sales & marketing semata.
  2. Strengthening Current Post. Artinya mengerjakan hal yang sama namun dalam skala lebih besar atau lebih banyak. Contohnya, seorang sales manager minta dipindahkan dari Surabaya ke Jakarta, atau seorang supply chain manager untuk Indonesia minta tantangan baru di kawasan Asia Pasifik. Manfaat pilihan ini adalah confidence booster — peningkatan rasa percaya diri, pengalaman dan kecenderungan untuk tidak menerima comfort zone.
  3. Going Up the Corporate Ladder. Bisa jadi ini strategi yang paling lazim. Apabila kita mempunyai kapasitas, tentu hal yang dilakukan adalah menapaki tangga korporasi hingga posisi tertinggi. Sayangnya, jenjang korporasi saat ini cenderung semakin pendek sehingga tidak terlalu banyak tempat tersedia untuk posisi-posisi kunci. Keutamaan langkah ini tentu status, prestise, power dan paket gaji yang besar. namun, perjalanan menuju ke sana seringkali harus dibayar dengan berkurangnya me-time dan family time. So, siapa pilih?
  4. Readjusting Down. Walaupun terkesan tidak wajar, pilihan untuk mengurangi tanggung jawab dan memilih pekerjaan berskala lebih kecil mungkin saja akan “memerdekakan” kita. Akan ada waktu lebih banyak untuk diri sendiri, keluarga dan bahkan perencanaan karier ke depan. Pilihan strategi ini akan memberikan fleksibilitas lebih, terutama dari segi waktu. Strategi ini sangat sesuai apabila kita merasa dipromosikan untuk mengerjakan hal yang berseberangan dengan minat, passion dan keahlian. Kosekwensinya tentu saja gaji yang lebih sedikit.
  5. Branching Out. Ini berkaitan dengan segala upaya untuk mengerjakan hal-hal lain di luar tugas dan tanggung jawab saat ini. Caranya bisa dengan bergabung dalam organisasi kemasyarakatan, sports, social, dll. Tujuannya adalah untuk membiarkan diri bersentuhan dengan orang baru, tuntutan baru dan lingkungan baru. Terlibat dalam program CSR adalah salah satu contoh yang paling sering dipraktekkan oleh profesional saat ini. Walaupun tidak memberikan uang lebih banyak, tapi waktu dan upaya yang dianggarkan akan memberikan kelegaan dan kepuasan.
  6. Moving On. Memutuskan untuk quit dari suatu organisasi dan mengerjakan hal-hal baru yang sesuai dengan passion dan purpose of life. “Mulai lagi dari awal” adalah diktum pilihan ini. Strategi ini tidak untuk semua orang karena tentu harus ada persiapan sebelum memutuskan nafkah dari suatu perusahaan. Namun, strategi ini sangat layak dipertimbangkan. (Suhardono, Rene, 2012. Your Job is not Your Career: Career Snippet, Penerbit Lentera Hati, h. 84-89)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s