Mengukur Overall Labor Effectiveness (OLE)

Overall Labor Effectiveness (OLE) adalah indikator kinerja kunci (KPI) yang mengukur utilisasi, kinerja, dan kualitas tenaga kerja beserta dampaknya terhadap produktivitas. Mirip dengan efektivitas peralatan keseluruhan (Overal Equipment Effectiveness, OEE), OLE mengukur ketersediaan (availability), kinerja (performance), dan kualitas (quality).

  • Ketersediaan (availability) adalah persentase waktu yang dihabiskan karyawan dalam memberikan kontribusi efektif.
  • Kinerja (performance) adalah jumlah produk yang diserahkan.
  • Kualitas (quality) adalah persentase produk tanpa cacat (sempurna) yang diproduksi atau dapat dijual.

OLE membantu produsen untuk memahami kesaling-tergantungan dan trade-off produktivitas di lantai pabrik dan profitabilitas melalui mengukur kontribusi dari tenaga kerja. OLE memberikan kepada manajemen kemampuan untuk menganalisis pengaruh kumulatif dari ketiga faktor tenaga kerja (availability, performance, dan quality) pada output yang dihasilkan.

Berikut ini dikemukakan perhitungan sederhana tentang OLE. Misalkan ada seorang karyawan bernama Budi yang memiliki standar pekerjaan sebagai berikut.

Data standar dari Budi:

  • Satu minggu harus bekerja selama 40 jam produktif, menghasilkan 200 unit output dengan tingkat kualitas bebas cacat (zero defect).

Selama waktu satu minggu, dilakukan pengukuran terhadap Budi dan memberikan data aktual berikut:

  • Dalam 1 minggu, Budi hanya bekerja 35 jam (5 jam absen). Jadi availability-nya = 35/40 = 0,875 atau 87,5%.
  • Output yang dihasilkan oleh Budi dari 35 jam kerja itu adalah 150 unit. Jadi performance-nya = aktual/standar = 150/200 = 0,75 atau 75%.
  • Dari 150 unit produk yang dihasilkan terdapat cacat atau rework 10 unit. Jadi quality-nya = (150-10)/150 = 140/150 = 0,933 atau 93,3%.
  • Jadi, nilai OLE = availability x performance x quality = 0,875 x 0,750 x 0,933 = 61,23%.

Interpretasi OLE Budi

Nilai OLE Budi adalah 61,23%, hal ini berarti bahwa perusahaan hanya mampu mengkonversi 61,23% dari potensi Budi untuk menjadi output yang layak dijual dan menguntungkan. Analisis lebih lanjut adalah mencari akar masalah sebagai penyebab rendahnya nilai OLE seorang karyawan. OLE mampu memunculkan kecenderungan-kecenderungan yang dapat digunakan untk mendiagnosa masalah secara lebih teliti. Hal ini berarti akan membantu para manajer memahami apakah tindakan korektif yang diambil telah efektif atau tidak, sehingga akan meningkatkan produktivitas perusahaan secara keseluruhan. (Vincent Gaspersz, All-in-one Management Toolbook, h. 239-243, Cet. 1, Tri-Al-Bros Publishing, 2012)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s