Hilangnya Rasa Aman di Sekolah

adv_bullying3Dunia pendidikan kita sedang darurat kekerasan. Begitulah kira-kira kesimpulan yang bisa saya ungkapkan. Bagaimana tidak, rasa aman kini menjadi barang mahal dan langka, justru di tempat yang seharusnya memberikan rasa aman dan tauladan kebaikan, yakni sekolah.

Saya sebagai bagian dari pendidik sangat terguncang, baik hati  maupun fikiran. Betapa tidak, sekolah yang menjadi tempat kami melakukan pendidikan dan transformasi knowledge dan moral baik, justru menjadi tempat paling menakutkan bagi anak-anak kita.

Hilangnya Rasa Aman dari Dekadensi Moral

Betapa miris hati saya sebagai orang tua siswa, tatkala mendengar banyak kasus amoral yang dipertontonkan oleh para guru  di depan hidung anak-anak didik mereka. Mulai dari celotehan ngeres di antara para guru hingga lakon perselingkuhan sesama mereka. Memang, tak dipungkiri sebagai manusia biasa, ada saja potensi menyimpang, pun itu seorang guru. Hanya saja, di kolom ini saya ingin mengingatkan siapapun penaggung jawab sekolah, bahwasanya Anda akan dimintai pertanggung jawaban atas setiap penyimpangan yang dilakukan oleh siapapun yang berada di dalam tanggung jawab Anda di sekolah. Ada beberapa hal yang perlu diwaspadai sebagai pemicu awal penyimpangan amoral ini. Di antaranya, tugas dinas luar yang kadang dilakukan beberapa hari dengan menginap di hotel dan sejenisnya. Hal ini saya pernah alami sendiri, bagaimana para guru, tak beda antara bapak dan ibu guru, yang menghabiskan malam-malam mereka dengan aktivitas yang tak ada hubungannya dengan pelatihan. Padahal, selama sesi pelatihan di pagi dan siang harinya, mereka justru menampakkan pribadi yang pasif, ngantukan, pendiam dan tak mampu “berbunyi” di sesi-sesi diskusi penalaran. Ada juga pemicu lain dari aktivitas dumay (dunia maya) yang kerap dilakukan orang para guru. Tambahan lagi, nampaknya, gaji guru yang sudah lebih baik sekarang ini, bisa juga menjadi pemicu aktivitas pelarian dari kondisi keluarga resmi yang disharmonis. So, jikalau suguhan perilaku dari patronnya seperti ini, maka bagaimana anak-anak sekolah tidak akan amoral, karena pepatah orang dulu juga mengungkapkan, guru kencing berdiri, anak sekolah kencing berlari. Doh Gusti…

Hilangnya Rasa Aman dari Kekerasan Fisik

Teringat kasus baru-baru ini, Renggo (11), siswa SD kelas V meninggal dunia (4/5/2014) sebab dipukuli seniornya karena hal sepele, yakni menumpahkan es krim yang harganya 1000 rupiah. Mirisnya, justru pelaksanaan eksekusi kekerasan ini dilakukan di ruang kelas. Lha…emang kemana ajha para guru? Bukankah normalnya, jika ada perkelahian sesama siswa, suasana akan sangat riuh? Menurut Harian Kompas 5 Mei 2014, sebelum eksekusi dilakukan, seluruh siswa diperintahkan oleh siswa pelaku untuk keluar ruang kelas. Artinya, para siswa mengetahui kasus kekerasan ini. Pertanyaannya, sedemikian tidak pedulinya kah anak-anak kita terhadap penyimpangan di depan mata mereka? Di manakan ajaran amar ma’ruf nahi mungkar yang dahulu sering saya dengar disampaikan berulang kali oleh bapak & ibu guru di sekolah. Ibu guru saya sering melontarkan pertanyaan, “Anak-anak, jika ada temen kalian nakal, Boleh nggak?” Otomatis, kami akan menjawab, “tidak boleeeh”. “Lalu apa yang akan kalian lakukan jika ada temen kalian menyakiti temen yang lain?” Demikian pertanyaan ibu guru waktu itu. Jawaban kami pun muncul beragam, ada yang spontan berseru, “melerai mereka Bu Guru.”, Ada juga yang menyahut, “Melaporkan ke Bapak dan Ibu Guruuuu”. Tak ada satupun di antara kami yang menyahut, “Dibiarin ajah Bu Guru, kami menonton dan menikmati pertunjukkannya”.

Kasus serupa sudah berulang kali kita dengar, mulai dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi, dan terakhir kita disuguhkan dengan tewaslnya salah satu taruna STIP di Jakarta karena perilaku kekerasan seniornya.

Hilangnya Rasa Aman dari Kekerasan Seksual

Tak urung, nalar saya terguncang, ketika ruang keluarga saya disuguhkan tindak kekerasan seksual yang dialami bocah mungil, siswa taman kanak-kanak di salah satu sekolah internasional milik warga asing di Jakarta. Bocah-bocah lucu ini justru menerima tindakan asusila tak kepalang biadab oleh para predator anak, yang dikenal dengan Paedofil (phedofil). Lagi-lagi, justru terjadi di sekolah yang seharusnya menjadi pelindung paling aman setelah orang tua mereka menitipkan dengan harga yang tak kira-kira mahalnya. Masa depan mereka tergadai sudah, di ruang pendidikan publik yang namanya sekolah. Kemanakah kita, sebagai orang tua mencari alternatif tempat pendidikan anak-anak kita? Tentu kita tidak boleh menyerah begiru saja pada realitas pahit yang kita alami. Kita segera harus bangkit dari kondisi darurat ini. Pemerintah, sekolah, masyarakat dan orang tua harus bahu-membahu untuk memberi andil memecahkan masalah ini. Tindakan-tindakan asusila ini sejatinya tidak berdiri sendirian tanpa ada prolog. Nah, saatnya kita mengoreksi ingatan kita bahwa ternyata kerap kita menyiapkan prolog kekerasan seksual pada anak kita dengan tangan kita sendiri. Apa itu? yakni dengan memberikan busana yang tak pantas dan seragam yang mengumbar aurat, sehingga menjadi motivator tindakan amoral bagi para jiwa kotor di sekeliling anak-anak kita.

Sudah saatnya, kita memulai kepedulian kita dari hal yang paling sederhana, paling kecil, paling mudah yang justru paling sering dilupakan. Saran saya, sekolahkan anak-anak kita pada sekolah yang peduli, mulai dari seragam yang menutup aurat sempurna, pelajaran moral dan agama yang utama, guru-guru yang memiliki basis pengetahuan psikologi dan kepekaan terhadap psokologis anak. Kesemuanya itu, jika dipenuhi oleh sekolah, tentu akan menciptakan aura positif bagi pendidikan anak-anak kita serta lingkupan kondusif penangkal kekerasan seksual. Saya sangat bangga pada sekolah yang kami dirikan bersama istri tercinta dan para kolega peduli generasi. Sekolah Aya Sophia Islamic School yang kami bangun di Citra Raya Tangerang telah mewujud menjadi partner orang tua untuk memformat anak-anak cerdas dan mulia.

Mari kita memberikan angka satu pada pendidikan anak-anak kita, yakni dengan peduli pada tempat pendidikan mereka. Sungguh uang yang kita kumpulkan dengan susah payah hanya akan memberikan kepayahan psikis kepada kita, tatkala kita dicap gagal sebagai orang tua sejati, yakni orang tua yang tidak hanya memenuhi kebutuhan fisik anak, tapi juga kebutuhan psikis dan spiritual mereka.

kang masduki

2 thoughts on “Hilangnya Rasa Aman di Sekolah

  1. Kasus yang terjadi menjelaskan pentingnya orang tua memilih sekolah yang mampu memberi rasa aman dengan kualitas pendidikan yang baik, tidak hanya melihat sekolah internasional atau nasional

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s