Berangkat ke Kantor yang Membahagiakan

P90064020Ruang memori otak saya hari-hari terakhir ini begitu riuh dijejali informasi politik sebagai konsekwensi pilpres yang akan digelar Bulan Juni 2014 besok. Tak pelak, istri dan anak-anak pun hingga yang terkecil 4 tahun begitu fasih membicarakan siapa bakal cawapres Jokowi dan Prabowo, halaah… emosi terkadang menyeruak begitu saja tatkala mengingat bagaimana kiprah para pendahulu capres-cawapres ketika mereka berkampanye dibandingkan dengan saat sudah duduk di kursi kepemimpinan nomor satu negeri ini. Jauh panggang dari api, janji tinggal janji, sehingga nampak lumrah jika fikir ini menyangsikan kejujuran janji pasangan yang akan pertarung ini pada pilpres besok ini.

Belum lagi, berita anak-anak SD di suatu daerah saban hari berjuang menantang maut dengan menyeberangi kali berarus deras karena tak ada sarana transportasi jembatan yang layak dan aman. Kasus aborsi yang dilakukan oleh remaja sudah menembus 2000 kasus per hari, suatu fakta angka yang membuat miris hati saya sebagai orang tua muda. Info-info dari layar televisi tersebut berebut meminta perhatian saya, seakan tak memberikan waktu kosong untuk rehat menikmat berita positif menggembirakan masa depan. Rindu saya seketika membuncah, tatkala teringat di waktu kecil sering menonton panen raya, lomba kelompencapir, kontak tani dan film Rumah Masa Depan. Masa kecil saya waktu itu seakan diisi dengan nuansa penuh harap dan cita, Indonesia masa depan yang gemilang. Menjelang maghrib kadang saya denger iringan musik gambus yang berlirik, “tahun dua ribu… tahun harapan…yang penuh tantangan…” Sambil menunggu bedug maghrib, saya sering berangan ada apa ya nanti tahun 2000? Saya jadi apa ya nanti? dan seterusnya.

Belajar dari masa kecil itu lah saya berupaya untuk menghilangkan kegalauan dan kegundahan dengan mematikan siaran berita televisi dan radio dan menggantinya dengan alunan nasyid dari suara almarhum guru saya, Ustadz Jefri Al Bukhari, Hada Alwi, Opick dan yang lain. Tatkala mendengar lantunan lagu “Bidadari Surga”, air mata rindu memeluk istri tak kuasa mengalir, ingin saat itu juga saya mencium keningnya kemudian berbisik mesra, “Terima kasih sayang atas baktimu kepada suamimu ini dan atas segala kasihmu yang tak bertepi kepada anak-anak kita”. Saat mendengar sholawatan dari lisan Hadad Alwi, saya pun merasa merinding ingat cerita guru saya di kampung dulu tentang syafaat Nabi yang kita butuhkan tatkala tidak ada lagi pembela di “Hari Pengadilan Akhirat” kelak. Belum lagi ketika mendengar lagu “Sepotong Pohon Kayu” Ustadz UJ, jiwa sontak tertunduk sadar bahwa tak ada artinya hidup lama berumur panjang ketika tak ada ta’at kepada Sang Pemberi Hidup.

Beberapa hari ini, saya berangkat ke kantor dengan ditemeni nasyid yang mendamaikan hati, jauh dari hiruk-pikuk berita politik kacangan dari para politisi oportunis. Hal ini saya lakukan bukan untuk lari dari kenyataan hidup, tapi demi menyelamatkan semangat jiwa untuk tetap positif thinking kepada Allah bahwa kehidupan besok akan lebih baik. Saya mematikan berita “buruk” televisi untuk menghilangkan mimpi “buruk” yang dijejalkan pada relung otak saya. Sungguh, musik nasyid yang melantun mengiringi perjalanan saya ke kantor sudah cukup membahagiakan saya, membuat saya tetap semangat untuk berkarya. Berkarya untuk makin sholeh, makin sukses dan makin bahagia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s