Mendidik Anak adalah Mega Proyek Mulia Setiap Orang Tua

aqiqahAlhamdulillah wa syukuurillah, itu yang terucap dari lisan ini ketika mendengar salah satu istri dari sahabatku, Pak Kartono melahirkan putra kedua mereka dengan selamat. Mereka tinggal di Graha Siena Citra Raya Tangerang ketika putra keduanya ini lahir. Malam ketujuh ketika waktu aqiqah tiba, saya diminta untuk hadir sekalian memberikan sedikit nasehat untuk keluarga dan handai taulan masyarakat Cluster Graha Siena.

Tak dipungkiri, setiap kelahiran anak dari pasangan syah dan resmi akan membawa kebahagiaan tak terkira, apalagi jenis kelamin si anak sesuai betul dengan yang diidamkan kedua orang tuanya. Hanya saja, tak pelak, ngopeni anak untuk tumbuh dan berkembang sesuai dengan harapan, era kini merupakan pekerjaan yang sudah tidak mudah lagi. Apa pasalnya? yang pertama, kita sebagai orang tua lebih banyak waktu di luar rumah. Budaya hidup dan ritme aktivitas orang tua saat ini sungguh berbeda jauh dari para orang tua kita dahulu. Mereka melakoni ritus kehidupan dengan sederhana dan tak penuh neko. Lah kita sekarang, sungguh telah dibebani biaya hidup yang tidak ringan sehingga menuntut untuk berada di luar rumah di sebagian besar waktu sadar kita, di luar waktu tidur. Kedua, guru dan bahan ajar untuk anak saat ini sungguh sangat beragam. Dengan masuknya internet ke rumah kita, maka otomatis anak-anak sudah punya alternatif bahan ajar selain nasehat orang tua dan gurunya di sekolah. Internet menjadi sahabat sekaligus “guru” mereka. Nah, bagaimana kalau “guru” internet ini menyampaikan bahan ajar tanpa disensor, tanpa dipilih, dan tanpa disesuaikan dengan kebutuhan anak? Maka niscaya hasilnya akan sungguh menghawatirkan setiap orang tua.

Terkait dengan kekhawatiran orang tua terhadap pendidikan anak ini, Imam Al Qurtubi di dalam kitab tafsir beliau, Al Jâmi’ li Ahkâmil Qur’ân. Asy Syaibani berkata: Kami berada di Konstantinopel dalam pasukannya Maslamah bin Abdul Malik, pada suatu hari kami berkumpul dalam majlis ahli ilmu, diantara mereka ada Ibnu Ad Dailami, mereka memperbincangkan kegoncangan yang akan terjadi pada akhir zaman, maka kukatakan kepadanya: Wahai Abu Bisyr, aku senang jika aku tidak punya anak. Maka beliau berkata kepadaku: “Mengapa demikian! Tidak ada satu keturunan pun yang Allah takdirkan untuk keluar dari seseorang melainkan pasti akan keluar, baik dia suka atau pun tidak suka, akan tetapi bila engkau ingin agar mereka selamat maka bertakwalah engkau kepada Allah dalam (berinteraksi dg) orang lain.” Kemudian dia (Ibnu Ad Dailami) membaca ayat:

Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” (QS. Al-Nisâ’ : 9)

Apa yang terjadi pada zaman sekarang sudah seharusnya menimbulkan kekhawatiran orang tua lebih besar daripada kekhawatiran As Syaibani dalam riwayat tersebut. Bagaimana tidak, sistem kehidupan sekuler, yang meminggirkan aturan Allah dari kehidupan, telah “sukses” menghancurkan sendi-sendi ketaqwaan anak-anak negeri ini, bahkan orang tuanya. Menurut data Badan Narkotika Nasional, 50 – 60% pengguna narkoba di Indonesia adalah kalangan pelajar dan mahasiswa (sekitar 3,8 sampai 4,2 juta). Dalam hal aborsi, dari 2,4 juta kasus pertahun di Indonesia, sekitar 21% (700-800 ribu) dilakukan oleh remaja, ini artinya rata-rata setiap hari sekitar 2 ribu remaja di negeri ini melakukan pembunuhan janin-janin yang tidak berdosa. Belum lagi bicara kriminalitas, perdagangan anak, pedofilia, dll. Melihat kondisi ini ada dua hal yang mesti dipikirkan orang tua.

Pertama, bagaimana menyelamatkan keturunannya dari kerusakan. Kedua, bagaimana menyelamatkan masa depan anak-anak secara umum. Tentang bagaimana menyelamatkan anak-anak kita, Allah swt menyatakan:

Hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” (QS. Al-Nisâ’ : 9)

Secara umum ketaqwaan orang tua dalam mendidik anak-anaknya, memberi teladan dalam berbuat dan berkata benar, memberi makan yang halal, dan ketaatan dalam setiap aspek kehidupannya, akan menyebabkan terjaganya anak-anak mereka, sebagaimana perkataan Ibnu Abbas ra, “Sesungguhnya perbuatan baik akan dibalas dengan kebaikan terhadap anak cucu.” [Al Khara-ithy (w. 327 H), Al Muntaqa, hal 37.]

Kedua, hal yang tidak boleh dilupakan adalah bahwa anak-anak tidak hanya hidup dengan orang tuanya, sedikit banyak mereka akan diwarnai oleh lingkungan dimana dia tinggal. Ada anak yang dirumah terlihat alim, namun tiba-tiba membuat heboh gara-gara foto adegan tidak layaknya ramai di internet, ada juga yang tidak kelihatan bermasalah di rumah, namun tiba-tiba polisi menangkapnya karena aborsi di toilet sekolah, ini terjadi salah satunya karena faktor lingkungan pergaulan. Rasulullah saw bersabda:

Seseorang berada di atas agama temannya, maka hendaknya seseorang di antara kamu melihat kepada siapa dia bergaul.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi, dan al Hakim)

Oleh karena itu harus ada upaya untuk memilihkan dan mewujudkan lingkungan yang baik bagi mereka. Baik itu lingkungan bermain saat kecil, maupun lingkungan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Sistem masyarakat yang baik adalah sistem yang digambarkan Rasulullah saw: “Madinah itu bagaikan mesin tungku api pandai besi, ia membersihkan kotoran (karat-karat)nya dan memurnikan yang baiknya.” (HR. Al Bukhary). Sistem inilah yang dijalankan oleh Rasulullah saw, dilanjutkan para Khalifah setelahnya, yakni sistem yang hanya berhukum dengan hukum Allah SWT, yang dengannya Allah menjadikan manusia berbondong-bondong menjalani kebenaran, mengangkat derajat seorang budak menjadi sangat mulia, menjadikan yang asalnya pembegal2 menjadi ‘ulama terkemuka. Sebaliknya, sistem yang buruk, yang membelakangi bahkan “mengkriminalisasi” hukum-hukum syari’ah, sudah terbukti menjadikan manusia berbondong-bondong meniti “jalan neraka”. Orang yang dididik baik-baik hingga berhasil meraih gelar tertinggi dalam akademik, menjadi professor dg latar belakang kehidupan yang baik dan jujur, mau tidak mau “dipaksa” menjadi koruptor, sebagian menjadi plagiator, sampai-sampai Mahfudz MD, mantan ketua MK dengan gaya bahasa hiperbola menyatakan: “malaikat masuk ke sistem Indonesia pun bisa jadi iblis” (Republika, 7/10/13).

Oleh karena itu, untuk menyelamatkan masa depan anak-anak kita, dua hal ini harus dilakukan secara bersamaan: 1) ketaqwaan dalam mendidik dan memberi teladan mereka, dan 2) berupaya sungguh-sungguh untuk mewujudkan sistem bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang betul-betul mengesakan Allah SWT dengan mentaati hukum-hukum-Nya dalam setiap aspek kehidupan. Alhamdulillah, hal pertama sudah menjadi perhatian umum kaum muslimin, berbagai sekolah dan pesantren telah berkembang dengan baik, namun hal ini tidak akan mampu mengerem kerusakan yang semakin meluas jika hal kedua tidak serius diupayakan umat, mengapa demikian? Karena apa yang diperbaiki di sekolah atau pesantren bertahun-tahun, begitu keluar begitu cepatnya “rusak” ketika memasuki sistem bernegara, walaupun masih ada yang tersisa. Negara/penguasalah, bila menerapkan hukum yang benar, yang memiliki wewenang untuk menghilangkan apa-apa yang bakalan merusak masa depan anak-anak kita. Sebagaimana perkataan Utsman bin ‘Affan ra:

Sesungguhnya Allah Ta’ala memberikan wewenang kepada penguasa untuk menghilangkan sesuatu yang tidak bisa dihilangkan oleh Al Quran.” [Imam Ibnu Katsir (w. 774 H), Al Bidayah wa an Nihayah, juz 2 hal 12].

One thought on “Mendidik Anak adalah Mega Proyek Mulia Setiap Orang Tua

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s