Menyikapi Gaya Kepemimpinan TOXIC LEADER

toxic leadershipSaya sejenak tertarik dengan pembahasan singkat di SMART FM yang disampaikan oleh Pak Anthony Dio Martin, Seorang EQ Trainer. Beliau mengenalkan istilah yang baru di telingan saya, yakni Toxic Leader. So, pada kesempatan ini, saya mencoba untuk meresensi sekaligus menambah-nambah apa yang beliau pernah sampaikan. Saya cek siapa sih yang pertama kali mengungkapkan istilah ini? ternyata Macia whicker yang pertama kali mengungkapkannya, yakni di tahun 1996. Marcia  gunakan istilah Toxic Leader untuk menggambarkan pemimpin dalam berbagai bidang yang karena kualitas disfungsional mereka menimbulkan bahaya laten kepada pengikut dan organisasinya. Pemimpin Toxic awalnya cukup mempesona tetapi meninggalkan mereka dalam keadaan “lumpuh”. Mereka hadir dalam korporat, sekolah, perguruan tinggi, militer dan di tempat lain. Sebuah studi pada tahun 2003 oleh US Army War College memberi petunjuk adanya Toxic Leadership di Angkatan Darat AS. Semua responden yang terlibat dalam penelitian ini mengatakan mereka telah menjadi korban kepemimpinan tersebut pada beberapa waktu dalam karir mereka. 

Apakah ada karakter-karakter tertentu yang spesifik dimiliki oleh seorang Toxic Leader? Menurut Anthony Dio Martin ada tujuh ciri kepemimpinan seorang Toxic Leader, yakni:

  1. Menganut sistem “Totempol Management.”
    Totempol Management berasal dari kata “Totem” yang merupakan semacam tugu pemujaan Suku Indian. Tugu Totem ini terdiri dari serangkaian figur yang tersusun bertingkat (saling menginjak satu sama lain). Seorang Toxic Leader umumnya menganut sistem Totempol Management di mana dia memandang rendah seorang bawahan sehingga dia akan menginjaknya. Toxic Leader menganggap bawahannya sebagai orang yang tidak pernah mampu mencapai standar kerja yang diinginkan dirinya, dan sering berkata: “Bodoh banget sih, kerja begini aja gak bisa, ini kan murni logika!” Akan tetapi, di sisi sebaliknya, dia akan melayani atasannya sebaik mungkin, sehingga atasannya akan menilai dia sebagai seorang yang memiliki kinerja yang baik.
  2. Menimbulkan atmosfer kerja yang kurang kondusif
    Terkadang kehadiran seorang Toxic Leader bisa menyebabkan suasana kerja menjadi sangat tidak mendukung. Para bawahan akan seringkali merasa bahwa pekerjaan akan terasa jauh lebih menyenangkan tanpa adanya si Toxic Leader itu, dan para bawahan merasa bahwa mereka bisa lebih produktif dalam bekerja ketika si Toxic Leader sedang tidak berada di sekitar mereka.
  3. Memberikan promosi yang sangat baik kepada bawahan yang “loyal” padanya
    Toxic Leader menyukai “blind loyalty”. Mereka akan sangat menyenangi “Yes-Man”, yaitu orang-orang yang akan selalu berkata “Ya” pada segala hal yang diperintahkannya. Dia akan seringkali mengungkapkan kalimat: “Pokoknya kerjakan saja seperti yang saya mau! Saya tunggu hasilnya!”
  4. Menimbulkan rasa takut
    Toxic Leader seringkali menggunakan tekanan rasa takut (ancaman) untuk mencapai tujuannya. Contoh kalimat yang seringkali diucapkan oleh seorang Toxic Leader: “Segera perbaiki performa kerja kamu! Atau kamu saya pecat!!”
  5. Membuat kondisi tim kerja menjadi buruk
    Dengan timbulnya suasana kerja yang kurang kondusif, secara otomatis akan banyak orang yang lama kelamaan tidak tahan bekerja di bawah pimpinannya sehingga rasio turn-over pun menjadi tinggi. Dalam jangka panjang hal ini akan berdampak pada gagal terbentuknya sebuah tim yang sukses karena terlalu sering terjadinya pergantian tenaga kerja (bayangkan sulitnya membentuk sebuah tim yang solid jika terjadi pergantian pemain terus menerus).
  6. Seringkali menggunakan bahasa yang sifatnya “foggy”
    Toxic Leader seringkali menggunakan gaya bahasa “foggy” atau berkabut, alias tidak jelas dan terlalu general sifatnya. Gaya bahasa ini berfungsi untuk mengelak jika suatu saat ada seseorang yang mencoba memutarbalikkan perkataannya. Ketika diserang balik dan merasa sulit mengelak, seorang Toxic Leader akan berbicara dengan nada suara yang “manis” dan berkata: “Maksud saya kan tidak seperti itu… Kamu salah mengartikan maksud saya…”
  7. Akan menghalalkan segala cara dalam kondisi terdesak
    Dalam kondisi terdesak, seorang Toxic Leader akan melakukan cara apapun agar tujuannya dapat tercapai dan tidak segan untuk menyalahkan bawahannya atas berbagai hal buruk yang terjadi di tempat kerja (padahal hal baik ataupun buruk di tempat kerja semuanya menjadi tanggung jawab dia juga sebagai atasan kan? ^^)

Umumnya para Toxic Leader ini akan sulit sekali untuk dilawan secara frontal karena sistem Totempol Management yang digunakannya (menginjak bawahan – melayani atasan). Ketika kita coba mengungkapkan ketidakpuasan kita terhadap gaya kepemimpinannya kepada atasannya, seringkali hal tersebut akan berbalik menyerang kita. Si atasan dari Toxic manager ini akan berkata kepada kita: “Tidak ada yang salah dengan pimpinanmu, kinerjanya baik kok. Jangan-jangan masalahnya ada pada diri kalian?” Justru kita yang malah menjadi sasaran. Oleh karena itu kita harus memiliki approach tersendiri terhadap Toxic Leader, karena akan sulit sekali bisa menang dalam peperangan frontal dengan Toxic Leader (biar bagaimanapun he’s the boss kan?).

Setidaknya ada tiga cara yang bisa dipakai untuk menghadapi Toxic Leader:

  1. Gunakan kecerdasan emosional (EQ) anda. Cari cara terbaik untuk approach Toxic Leader. Dengan approach yang tepat, bukan tidak mungkin kita bisa melunakkan hatinya (membuatnya berubah pikiran), atau bahkan membantu dia memperbaiki karakternya (detoxification)
  2. Bangun lingkungan yang bisa membina si toxic leader. Paul Mulvey dan Art Padilla, dua profesor dari North Carolina State University, pernah menyatakan, “Leadership is not a person, a leader is a person. Leadership is more than just about a leader. It includes the followers and the checks and balances in the environment as well.” Menurut keduanya, ada yang disebut sebagai the toxic triangle (segitiga beracun ?), yakni si toxic leader sendiri, para pengikutnya, dan lingkungan organisasi. So, jika kita hendak memanajemeni seorang toxic leader, maka kedua faktor yang lain ini perlu dikondisikan baik. Karena bisa jadi, seorang pemimpin menjadi toxic leader disebabkan pengaruh anak buahnya, seperti kisah Duryudana yang mendapat pengaruh negatif dari Sengkuni atau bisa jadi karena pengaruh lingkungan organisasi yang demikian buruknya, seperti kisah para mantan ustadz yang korupsi karena tekanan lingkungan.
  3. Cari tempat kerja baru. Ini jalan keluar terakhir jika anda sudah merasa frustasi bahwa anda tidak bisa menemukan approach yang tepat terhadap si Toxic Leader. Jika anda tidak bisa mempertahankan sikap positif anda, bisa-bisa anda akan menjadi negatif seperti dia dan membuat anda sulit berkembang. Bahkan dengan keluar dari tempat kerja anda, anda bisa sekalian memberikan “teguran” tersirat terhadap si Toxic Leader atas gaya kepemimpinannya.

Sekian sharing dari saya, jika Anda seorang bawahan yang menghadapi seorang Toxic Leader, mudah-mudahan Anda dan rekan-rekan kerja Anda bisa sehati dan saling menguatkan dengan cara senantiasa menyebarkan aura positif di tempat kerja Anda supaya tidak selalu habis terserap oleh aura negatif si Toxic Leader. Dan jika Anda seorang pimpinan, mudah-mudahan topik sharing ini bisa digunakan untuk introspeksi diri Anda Memiliki satu ciri saja dari ketujuh ciri Toxic Leader, maka Anda sudah masuk kualifikasi untuk dapat disebut sebagai Toxic Leader (tidak perlu memiliki ketujuhnya untuk menjadi seorang Toxic Leader). Akan sangat baik jika Anda buka seorang Toxic Leader, namun jika Anda sudah terlanjur menjadi Toxic Leader, mudah-mudahan bahan sharing ini bisa menjadi semacam detoxifikasi supaya gaya negatif kepemimpinan Anda tidak semakin berlarut-larut, Anda segera bertobat dengan taubatan nashuuha sehingga kesuksesan dapat dicapai sebagai seorang Leader & Manager yang baik, dimana Anda mencapai sukses “through & together with other people.

2 thoughts on “Menyikapi Gaya Kepemimpinan TOXIC LEADER

  1. Type kepemimpinan seperti ini kayaknya ada di tempat kerja saya. Sifatnya sama persisi seperti ciri-ciri Toxic Leader yang ditulis di atas. ha.ha.ha.ha…. thnks atast pencerahannya Pak Masduki.

    Suka

  2. Jika Pak Sahudin yang mengalami sendiri, saya do’akan semoga Pak Sahudin bisa bersabar dan secara aktif melakukan “toksifikasi” terhadap gaya kepemimpinan ybs., jika tidak bisa juga, please…jangan gadaikan hidup yang sebentar dan hanya sekali-kalinya ini dengan membiarkan diri teracuni toxic leader.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s