Mental “Sakit” Sopir Angkot

macetSudah dua hari ini jalanan yang biasa saya lalui dengan bahagia, teracuni oleh ulah mayoritas sopir angkot yang bermental sakit. Waktu tempuh yang biasa saya lalui hanya 15 menit, karena masalah mental sakit ini menjadi 1,5 – 2 jam, padahal jarak tempuh hanya 1 km, Doh… Apa pasal? Jalan Raya Serang di ruas Pasir Gadung Cikupa – Cirewet sedang dalam proses pengecoran oleh Dinas PU. Oleh karena itu, tak ayal lajur jalan harus dibuat satu-satu, yakni dari arah Citra Raya satu lajur dan dari arah Bitung juga satu lajur. Mestinya dengan pengaturan demikian, bisa menampung jumlah kendaraan yang lewat dengan kondisi padat merayap yang tidak lebih dari 1 km, tapi luar biasanya, lalu lintas bisa macet pet tak bergerak setelah pk. 06.30 hingga 08.30 -an. Kenapa? karena ulah sebagian besar sopir angkot yang tidak mau tertib teratur mengantri. Ketika mobil lain sedang mengantri untuk masuk ke jalur yang sedang ada perbaikan jalan tersebut, mereka seenaknya nyerobot terus menerus hingga seluruh lajur dari arah Barat (Citra Raya) penuh dengan mobil dan motor yang mengikuti ulah para sopir sakit mental ini. Ajaibnya, lajur dari arah Timur pun (Bitung) juga dipenuhi oleh kendaraan. So, sudah bisa dibayangkan bagaimana dua lajur bertemu dengan kondisi adu kebo begitu, masyaAllah…Saking tidak tertibnya, di masyarakat berkembang pemeo bahwa tak ada yang tahu kapan mobil angkot berbelok, jalan dan berhenti kecuali Tuhan dan si sopir sendiri.

Ulah sebagian besar sopir bermental sakit ini setidaknya telah berpengaruh negatif terhadap beberapa hal di bawah ini:

  1. Merusak mental pengguna jalan. Pengaruh ini sungguh sangat saya rasakan, bayangkan saja, saya ajha yang terkenal sebagai pribadi yang sopan santun dan tidak sombong (he3x…) merasa risau juga dengan ketidakdisiplinan mereka, apalagi kala bapak-bapak polisi datang kesiangan dalam mengatur jalan raya….mateng dech… Saya yakin para pengendara motor dan mobil pribadi yang sebelumnya malu-malu untuk melanggar, tiba-tiba muncul semangat berani malunya untuk melanggar aturan. Beberapa kali saya pernah pelototin para sopir mobil pribadi dan sepeda motor yang tidak ta’at, respon mereka…senyum-senyum kecut…ngerasa salah. So, berapa generasi lagi kita harus menyiapkan masyarakat ta’at hukum?. Belum lagi, rasa males berangkat kerja yang bisa tiba-tiba pun muncul ketika mengingat situasi jalan raya yang macet menggila.
  2. Menambah pemborosan biaya perjalanan. Bagaimana tidak?, ratusan kendaraan harus membuang percuma bahan bakar mereka secara sia-sia. Pemborosan bahan bakar ini, bahkan bisa lebih dari 100%.
  3. Menurunkan daya saing ekonomi. Mengapa? ya jelas, ratusan bahkan ribuan pengguna jalan ini mayoritas adalah pegawai dan karyawan. Mereka menjadi telat masuk kerja karena kendala jalan raya ini. Kalau mereka telat 1 – 2 jam dan dikalikan dengan 1000 orang saja, berarti jam telat menjadi 1000 jam kerja per hari. Bagaimana jika waktu perbaikan jalan berlangsung hingga satu bulan, aduh biyuung…
  4. Menurunkan citra baik negara kita di mata para tamu/ investor. Pernah ada seorang teman ekspatriat dari Inggris yang berseloroh, “Kapan ya jalanan Indonesia tidak macet, sehingga perekonomian Indonesia bisa bergerak cepat untuk bersaing dengan negara lain?”. Pertanyaan sederhana yang sulit saya cari jawaban tepatnya, so, jawaban diplomasi saya adalah dengan tertawa kecut...tahu ngk, sakitnya tuch di siniiii.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s