“Gadget Syndrome”

IPS untuk guru dan dosenTiga hari ini, 15-17 Mei, praktis saya lewati hari indah dengan istri dan anak-anak tercinta. Jadwal saya untuk ke Bandung di tanggal 15 Mei saya tunda. Juga agenda saya untuk mempersiapkan ngisi training soft skills di Universitas Muhammadiyah dan PT. Adiperkasa saya alokasikan full di rumah. Apa pasal? saya sedang menyediakan lebih banyak waktu untuk jagoan saya yang pertama, Mas Akbar yang akan mengikuti Ujian Nasional di sekolahnya. Walaupun sudah tidak lagi menjadi faktor satu-satunya penentu kelulusan, namun nampaknya aura di sekolahnya sangat membekas untuk membuat dia cukup nervous dan perlu persiapan prima.

Kesempatan di rumah ini, saya manfaatkan untuk menerima kunjungan silaturahim para kolega. Ada yang sekedar datang untuk melepas kangen, ada juga yang ngajak bincang-bincang tentang menemukan bakat bagi diri dan keluarganya, hingga ketemu tukang bangunan yang saya minta datang untuk pasang keramik dinding musholla dan asesoris pagarnya. Dari lima rombongan yang datang silaturahim itu, setidaknya ada dua figur yang sangat menonjol dalam akademik, yang satu lulusan ITB dan saat ini sudah bekerja di salah satu perusahaan bonafid di Jakarta, dan yang terakhir adalah lulusan UGM dan sudah bekerja juga. Keduanya adalah anak-anak muda yang sangat potensial. Hanya ada satu hal yang menjadi perhatian saya adalah kemampuan mereka dalam berbahasa dan menyambung kosa kata. Kedua skills itu nampak sangat kurang diperhatikan, lebih-lebih jika dibandingkan dengan skills teknik mereka, begitu njomplang.

Saya jadi teringat dengan “gadget syndrome” yang makin dirasa menghambat kemampuan berbahasa lisan kita. Dalam hal ini, kadang saya juga tertawa sendiri, ada saat ketika saya menjemput istri dari agenda rapat di komunitasnya. Setelah salam dan cium tangan, istri saya masuk ke dalam mobil dan duduk di samping saya yang sedang nyetir. Apa yang dilakukannya sepanjang tempat acara hingga rumah adalah mencetin itu layar handphone. Duh…awalnya saya kaget juga di dalam hati, emang gue cowok apaan, kok didiemin dan kalah dengan handphone. Tapi segera saya sadar. Jikalau istri saya saja sampai terlena dengan gadgetnya, apalagi para remaja dan mahasiswa yang sedang semangat mengeksplorasi dunia mereka. Poinnya adalah, saya khawatir, jangan-jangan sepuluh tahun ke depan, kita akan kesulitan menemukan anak muda yang pinter berbahasa lisan karena sepanjang waktunya mereka lebih fokus pada bahasa tulisan melalui gadget maupun komputer. Padahal, “orang hebat wajib bisa bicara”, demikian nasehat salah satu guru saya, Kek Jamil Azzaini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s