MENJADI GENERALIST ATAU SPECIALIST

Inspirasi Buku Fokus Satu Hebat 17Menjadi generalist atau specialist adalah pilihan. Saya pernah berpikir, bahwa saya seorang generalist, karena saya mempunyai knowledge beragam dan dalam berbagai hal. Namun tidak ada yang spesifik atau sangat menonjol skill-nya. Apapun saya pelajari untuk mendapatkan knowledge tertentu dan mencari minat saya ada dimana.

Jika tentang komputer saya mengerti, design, animasi, ilustrasi, editing powerpoint, web design, karena saya suka berada di depan komputer. Bidang manufaktur, saya mengetahui total productive maintenance, pneumatic, hydraulic, electropneumatic & electrohydraulic design, line balancing, balance score card, lean manufacturing, lean six-sigma, toyota production system, dan manufacturing management lainnya, karena saya sebagai kepala divisi plant.

Dalam bidang manajemen saya juga mengetahui strategi bisnis, marketing, operasional, human resources, knowledge management, dan talent management, karena memang saya juga pernah diwisuda sebagai Magister Manajemen SDM. Saya juga hobi mengkaji fikih keempat madzhab, mulai dari kitab Al Umm Imam Syafi’i, Al-Mughni, Bidayat al Mujtahid, Al Fiqh ‘ala Madzahibil Arba’ah, Ushulul Fiqh, Al ‘Umdah, Fiqh Islam wa Adillatuhu, dan seterusnya.

Hal politik juga saya pelajari dari buku Du Contract Social-nya Jean Jacques Rousseau, Siyasah Syar’iyyah-nya Ibnu Taimiyyah, Nidzom Al Hukm, Al Ajhizah, dan Daulah Islam-nya Syekh Taqiyyuddin An Nabhani, dan ratusan buku politik klasik hingga kontemporer, serta ribuan nasyroh dan artikel politik saya pelajari, karena saat ini saya adalah aktivis Hizbut Tahrir. Hal lainpun saya pelajari seperti psikologi, bisnis, komunikasi, hypnosis dan hypnotherapist hingga mendapat sertifikat master-nya.

Pada dasarnya, saya memang sangat senang membaca dan kemudian melakukan apa yang saya baca yang sesuai minat saya, itulah sebabnya saya bisa mempelajari sesuatu dengan mudah jika saya mau. Menurut saya itulah salah satu skill saya, yaitu kemampuan belajar cepat karena cara berpikir saya yang sudah terbentuk lewat proses pembelajaran bertahun-tahun.

Suatu kali saya berdiskusi dengan sahabat saya dan semakin mengerti ketika ia mengatakan: jangan mau jadi generalist karena orang yang mengaku generalist pada dasarnya hanya alasan buat mereka yang tidak punya keinginan mengembangkan kemampuan. Karena terlalu generalist, jadi tidak menyentuh esensi, terombang-ambing kehidupan terbawa arus kehidupan, terlalu kompromistis dalam mengejar cita-cita. Saya waktu itu kaget dan saya pikir kata-kata ini sangat menyentuh dan benar sekali, bahwa pada dasarnya menjadi specialist itu jauh lebih penting.

Jadi saran saya, gunakan knowledge Anda untuk mengembangkan skills dan jadilah seorang yang punya spesialisasi di bidang yang Anda sukai. Teruslah meninggikan gunung talenta Anda, hingga meraih langit kemuliaan. Mendekat kepada ridho-Nya. Setujukah Anda?

Salam ‪#‎FokusSatuHebat‬

One thought on “MENJADI GENERALIST ATAU SPECIALIST

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s