APAKAH SAYA BAHAGIA?

Inspirasi dari Soft Skills Institute 60Salah satu narasi yang sangat kuat menandai zaman kita adalah diskursus mengenai kebahagiaan. Ratusan bahkan mungkin ribuan buku dan artikel mendiskusikan masalah kebahagiaan. Ada beragam sudut pandang. Ada yang memotretnya dari sudut agama, psikologi populer, sosiologis, bahkan sastra dan seni. Jauh hari, kanjeng Nabi mengajarkan kita dalam doa-doa sapu jagat yang dilaungkan, “Rabbanaa aatinaa fiddunya hasanatan wa fil-aakhirati hasanatan (Ya Tuhan kami, Berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat).”

Kali ini saya ingin meramaikan konsep psikologi positif yang dikembangkan oleh Prof. Seligman, yang saat itu baru dipilih sebagai presiden American Psychological Association, 1998. Saya setuju dengan konsep fokus pada keunggulan dalam konsep beliau. Saya juga memang menegaskan tatkala berbicara di depan para trainer Fokus Satu Hebat di Jakarta, bahwa madzhab buku Fokus Satu Hebat yang saya tulis adalah senafas dengan psikologi positif dan growth mindset.

Kembali tentang kebahagiaan, menurut Prof. Seligman, ada tiga cara untuk bahagia:

Pertama, have a pleasant life (life of enjoyment): Memiliki hidup yang menyenangkan, mendapatkan kenikmatan sebanyak mungkin (cara yang biasa ditempuh oleh kaum hedonis). Namun apabila cara ini yang kita tempuh, hati-hati terjebak dalam hedonic treadmill (semakin kita mencari kenikmatan, semakin kita sulit dipuaskan) dan jebakan habituation (kebosanan karena terlalu banyak). Lebih baik dalam takaran yang pas namun dapat membahagiakan kita. Saya menemukan takaran yang pas itu ada dalam Al-Qur’an dan Hadits Nabi. Temen-temen bisa cek dalam beragam nash yang bertaburan di teks keduanya tentang diskursus kebahagiaan.

Kedua, have a good life (life of engagement): Dalam bahasa aristoteles disebut eudaimonia. Terlibat dalam pekerjaan, hubungan atau kegiatan yang membuat kita mengalami “flow”. Merasa terserap dalam kegiatan itu, seakan-akan waktu berhenti bergerak, kita bahkan tidak merasakan apapun, karena sangat “khusyu”. Bekerja, dan berkarya yang sesuai dengan tujuan hidup dan passion kita, insya Allah akan menemukan kondisi “flow” ini.

Ketiga, have a meaningful life (life of contribution): Memiliki semangat untuk melayani, berkontribusi dan bermanfaat bagi orang lain atau mahluk lain. Menjadi bagian dari organisasi atau kelompok, tradisi, gerakan atau harakah tertentu. Merasa hidup memiliki “makna” yang lebih tinggi dan lebih abadi di banding diri kita sendiri. Faktor kekitaan dan spiritual yang makin menghiasi hidup kita adalah indikatornya.

Saya masih terus berupaya menjaga tensi kebahagiaan saya, makin meningkat. Bagaimana dengan Anda? Wallaahu a’lam.

Jika bermanfaat, insya Allah nge-share artikel ini bagian dari ‪#‎SedekahIlmu‬.

Salam ‪#‎FokusSatuHebat‬.

kangmasduki.com
edukator soft skills

SOFT SKILLS INSTITUTE
Training-Coaching-Consulting
www.softskills.web.id | care@softskills.web.id
0813-8099-3677; 0838-1231-2014 (SMS/ WA/ Telegram)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s