Mengukur Kinerja Produksi

Menjadi manajer atau supervisor atau apapun namanya yangĀ  bertanggung jawab atas suatu proses atau aktifitas ada enak dan tidaknya, yah… beginilah dunia. Di antara enaknya, mereka akan mendapat upah jauh lebih besar dari karyawan biasa saat akhir bulan, tapi ada juga tidak enaknya, mereka musti menanggung semua beban dari unit kerja yang menjadi tanggung jawabnya. So, jika sebuah unit kerja tidak perform, maka tak lain yang paling layak digantung duluan adalah mereka para penanggung jawabnya… Nah lho. termasuk diomelin oleh atasannya atau oleh owner, maka ada ujar-ujar, upah manajer lebih tinggi itu sudah dihitung termasuk dengan upah atas kesiapan menerima omelan….he3x.. siapa yang sudah siap diomelin?

Nah, agar setiap aktifitas terukur kinerjanya, maka tentu kita perlu ukuran, termasuk juga pekerjaan kita-kita yang ada di medan juang manufaktur atau bagian produksi. Adalah disebut Overall Equipment Effectiveness (OEE) yang bisa diandalkan menjadi indikator kinerja produksi. Biasanya, OEE ini menjadi key performance indicator (KPI) atas implementasi lean manufacturing. Agar lebih mudah dan bisa dioperasionalkan, maka saya coba share teknis menghitung OEE, yang sejatinya dalam rangka mengukur kinerja produksi. Baca lebih lanjut